Surabaya – Diklat Peningkatan Kompetensi Kepala Madrasah Batch 1 resmi ditutup pada Rabu (25/3/2026), di Aula KH. Hasyim Asy’ari Kantor PWNU Jatim. Kegiatan yang terselenggara atas kerja sama PW LP Ma’arif NU Jawa Timur dan BDK Surabaya ini dirancang untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan kepala madrasah dalam menghadapi tantangan era digital.
Diklat yang berlangsung selama 53 jam pelajaran tersebut tidak hanya membekali peserta dengan materi kepemimpinan (leadership), tetapi juga mempersiapkan kepala madrasah dalam merespons karakter peserta didik yang mayoritas merupakan generasi digital native.
Peserta dilatih merancang pembelajaran berbasis kultur akademik yang kuat, melakukan rebranding madrasah agar memiliki distingsi, serta mengembangkan program unggulan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Selain itu, diklat juga memberikan penguatan muatan lokal berupa internalisasi nilai-nilai Aswaja dan ke-NU-an sebagai fondasi ideologis dan kultural madrasah di lingkungan NU. Pendekatan pembelajaran Aswaja yang menyenangkan turut menjadi bagian penting dalam materi pelatihan.
Pada sesi penutupan, salah satu peserta, Imroh, Kepala MI dari Blitar, menyampaikan kesan dan pesannya. Ia mengaku memperoleh bekal penting dalam menjalankan amanah sebagai kepala madrasah.
“Saya baru satu bulan dilantik menjadi kepala madrasah. Melalui diklat ini, saya mendapatkan modal ide dan sikap dalam memimpin madrasah,” ujarnya.

Ketua Bidang II Diklat dan Penjaminan Mutu PW LP Ma’arif NU Jatim, Prof. Dr. Hj. Evi Fatimatur Rusydiyah, M.Ag., menegaskan bahwa diklat ini tidak hanya memberikan penguatan kognitif, tetapi juga membangun dimensi spiritual kepemimpinan.
“Madrasah tidak cukup hanya memiliki ruang kelas, melainkan harus menghadirkan program inovatif dan unggulan yang relevan dengan tantangan era digital,” katanya.
Sementara itu, Ketua PW LP Ma’arif NU Jatim, Prof. Masdar Hilmy, M.A., Ph.D., dalam arahannya menekankan peran strategis kepala madrasah sebagai faktor pengungkit perubahan.
“Kepala madrasah harus menjadi duta perubahan. Mereka perlu memiliki motivasi kuat serta merancang program yang berdampak nyata. Penting pula merumuskan baseline kondisi saat ini agar perubahan dapat diukur,” tegasnya.
Ia juga menekankan perlunya monitoring dan evaluasi (monev) untuk memastikan dampak nyata dari pelaksanaan diklat.
Turut hadir dalam penutupan tersebut Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur, Dr. H. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa organisasi yang kuat dan sehat harus memiliki visi dan misi yang jelas, AD/ART yang tertata, sumber daya manusia yang kompeten, serta pembagian tugas (job description) yang profesional.
Seluruh kriteria tersebut, menurutnya, harus dijalankan secara konsisten dan profesional agar organisasi mampu berkembang secara berkelanjutan.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan sesi foto bersama seluruh peserta dan tamu undangan. (EFR)