LP Ma'arif NU Jawa Timur

Ketua LP Ma’arif NU Jatim: Pendidikan Aswaja Religius-Humanis Diuji Zaman Digital

Surabaya – Pendidikan berbasis nilai Aswaja yang dirawat Nahdlatul Ulama kini berhadapan dengan dinamika zaman yang kian kompleks. Hal tersebut disampaikan Ketua PW LP Ma’arif NU Jawa Timur, Prof. H. Masdar Hilmy, S.Ag., MA., Ph.D. dalam forum Ngaji “Kentong Ramadhan 1447 H” yang digelar di Aula Lantai 1 PWNU Jawa Timur, Minggu (22/2/2026).

Dalam pemaparannya, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut menekankan bahwa pendidikan religius-humanis yang menjadi karakter lembaga pendidikan Ma’arif saat ini menghadapi tiga arus besar: radikalisasi ideologi, komersialisasi pendidikan, dan disrupsi media sosial.

Pendidikan Sebagai Proyek Peradaban

Menurutnya, lahirnya NU tidak dapat dilepaskan dari misi menjaga kemurnian akidah Ahlussunnah wal Jamaah, termasuk melalui kiprah historis Komite Hijaz yang berdimensi internasional. Namun NU tidak berhenti sebagai organisasi sosial-keagamaan semata. Di dalamnya terdapat agenda besar pembangunan peradaban melalui jalur pendidikan, baik pesantren maupun madrasah.

LP Ma’arif NU, lanjutnya, merupakan instrumen strategis dalam menjalankan mandat tersebut. Penyusunan bahan ajar Aswaja menjadi bagian dari upaya sistematis untuk memperkuat ketahanan ideologis warga sekaligus membangun kesadaran kemanusiaan.

“Religiusitas yang kita bangun tidak eksklusif. Ia berpijak pada tauhid dan akhlak Qur’ani, tetapi tetap menghormati martabat manusia. Pendidikan tidak boleh melahirkan sikap merasa paling benar sendiri,” tegasnya.

Tiga Tantangan Strategis

Pertama, radikalisasi, terutama yang beroperasi melalui ruang digital. Paparan ideologi ekstrem tidak lagi hadir secara fisik, melainkan menyusup melalui gawai dan media sosial. Kondisi ini menuntut penguatan literasi keagamaan sekaligus pengawasan yang lebih adaptif di lingkungan keluarga dan sekolah.

Kedua, industrialisasi pendidikan. Fenomena komersialisasi lembaga pendidikan berpotensi menciptakan ketimpangan akses. Pendidikan yang semestinya menjadi hak publik justru terancam menjadi komoditas yang sulit dijangkau kelompok ekonomi lemah.

Ketiga, media sosial sebagai ruang tanpa batas. Selain membuka peluang dakwah dan edukasi, platform digital juga kerap menjadi arena polarisasi, perundungan, hingga degradasi nilai kemanusiaan. Anak-anak hari ini menghadapi tantangan ganda: realitas nyata sekaligus realitas maya.

“Generasi sekarang berhadapan dengan tekanan yang lebih kompleks dibanding masa lalu. Jika dulu tantangan bersifat fisik dan kasatmata, kini tantangan hadir dalam bentuk algoritma dan narasi digital,” ujarnya.

Penguatan Pendidikan Religius-Humanis

Menghadapi realitas tersebut, LP Ma’arif NU Jatim berkomitmen memperkuat model pendidikan religius-humanis sebagai basis pembentukan karakter. Pendidikan harus menjadi ruang memanusiakan manusia, bukan sekadar transfer pengetahuan.

Religiusitas tanpa empati akan melahirkan eksklusivisme. Sebaliknya, humanisme tanpa fondasi tauhid akan kehilangan arah etik. Karena itu, integrasi keduanya menjadi kebutuhan mendesak dalam konteks masyarakat multikultural dan era transformasi digital.

Kegiatan Ngaji “Kentong Ramadhan 1447 H” sendiri berlangsung sepanjang 3–26 Ramadhan 1447 H dan melibatkan 18 lembaga serta 14 badan otonom di lingkungan PWNU Jawa Timur sebagai ruang konsolidasi gagasan dan penguatan nilai kebangsaan serta keumatan.